TSOlTfzlGpdoGUGlTpzlTUOiTd==

Sosialisasi dan Praktik Kerupuk Jengkol Digelar di Batu Busuk, Warga Antusias Kembangkan Produk Lokal Pascabencana

 

Padang, BN-News - Komitmen pemberdayaan ekonomi masyarakat pascabencana terus diwujudkan melalui rangkaian kegiatan Program Mahasiswa Berdampak yang dilaksanakan tim LAPIAK NAGARI di Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kali ini, kegiatan difokuskan pada sosialisasi sekaligus praktik pengolahan kerupuk jengkol yang dilaksanakan di area PLTA setempat pada Rabu (11/2/2026). 

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua RW yang memberikan kata sambutan sekaligus mendampingi masyarakat selama pelaksanaan acara. Turut hadir Ibu Kurnia, dosen Universitas Andalas, yang berperan sebagai narasumber teknis dalam penyampaian materi dan praktik pengolahan jengkol menjadi kerupuk dengan berbagai varian rasa dan bentuk. Sekitar 15 orang peserta yang merupakan perwakilan masyarakat dari masing-masing RT mengikuti kegiatan dengan antusias.

Acara diawali dengan pembukaan oleh moderator, dilanjutkan sambutan dari Ketua RW, Ibuk Yenni, serta Ketua Pelaksana kegiatan. Setelah itu, dilakukan penyerahan simbolis bantuan bahan dan alat pengolahan kerupuk jengkol kepada masyarakat sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan usaha berbasis komoditas lokal.

Dalam sesi materi, Ibu Kurnia menjelaskan secara rinci teknik pengolahan kerupuk jengkol mulai dari proses perendaman semalam hingga kulit mengelupas, tahap penggorengan awal, pembentukan menggunakan batu ulekan, penjemuran, hingga penggorengan akhir. Ia juga memaparkan variasi pengolahan lain seperti metode penghancuran jengkol menjadi adonan sebelum dicampur bumbu dan tepung, kemudian digiling dan digoreng.

Tidak hanya itu, narasumber turut membagikan praktik dan teknik pengolahan yang berkembang di berbagai daerah seperti Kota Solok hingga Bengkulu, guna memperkaya referensi produksi masyarakat. Disampaikan bahwa pengolahan jengkol membutuhkan teknik tepat agar cita rasa tetap nikmat tanpa meninggalkan aroma menyengat yang sering menjadi kendala.

Ketua RW dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi pendampingan mahasiswa.

“Program ini bukan hanya memberikan bantuan alat, tetapi juga ilmu yang sangat bermanfaat. Kami melihat potensi besar jengkol sebagai produk unggulan Batu Busuk jika dikelola dengan serius,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari kalangan ibu-ibu mengungkapkan harapannya terhadap keberlanjutan program.

“Kalau ini bisa terus didampingi sampai benar-benar jadi usaha, kami yakin kerupuk jengkol bisa jadi oleh-oleh khas Batu Busuk. Ini peluang kami untuk bangkit lagi setelah bencana,” katanya.

Dalam kesepakatan bersama, mahasiswa Universitas Andalas melalui tim LAPIAK NAGARI berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan teknis dan membantu pemasaran produk apabila masyarakat serius mengembangkan usaha ini secara berkelanjutan. Pendekatan ini menekankan bahwa program tidak berhenti pada seremonial semata, tetapi berorientasi pada kemandirian ekonomi berbasis sumber daya alam lokal.

Meski kegiatan sempat mengalami sedikit keterlambatan akibat persiapan perlengkapan yang cukup banyak serta kondisi cuaca yang kurang mendukung, seluruh rangkaian acara tetap berjalan dengan tertib dan menghasilkan praktik olahan sesuai target yang direncanakan.

Melalui pelatihan ini, diharapkan kerupuk jengkol tidak lagi dipandang sebagai produk rumahan biasa, melainkan sebagai komoditas bernilai tambah yang mampu menjadi ikon kuliner Batu Busuk serta memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Pewarta: Sultan Chairuman Yahya
(Ketua Umum HIMASEKTA FP-UNAND 2025–2026)
Editor: F. Malin Parmato

Komentar0

Type above and press Enter to search.