TSOlTfzlGpdoGUGlTpzlTUOiTd==

Potensi Penurunan Nasionalisme di Kalangab Generasi Muda


Opini
Potensi Penurunan Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Penulis : Moh. Fikri

Perkembangan modernisasi dan globalisasi telah membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Kemajuan teknologi informasi, pertukaran budaya yang semakin cepat, serta perubahan pola hidup masyarakat modern menciptakan lingkungan sosial yang lebih terbuka dan lebih kompleks. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi dinamika sosial dan budaya, tetapi juga berpotensi melemahkan nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda.

Fenomena penurunan nasionalisme pada generasi muda membawa dampak positif maupun negatif bagi negara dan masyarakat. Dampak positifnya terlihat pada kemajuan teknologi dan meningkatnya akses pengetahuan. Namun, dampak negatif jauh lebih dominan, antara lain masuknya budaya asing yang memengaruhi gaya hidup masyarakat sehingga cenderung meniru budaya Barat maupun Korea. Hal ini tampak pada menurunnya sikap sopan santun, perubahan adat istiadat, serta meningkatnya ketergantungan generasi milenial pada gawai, media sosial, dan hiburan luar negeri. Kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan berlanjut tanpa upaya pencegahan.

Faktor lunturnya rasa nasionalisme di generasi muda adalah kurangnya pemahaman terhadap sejarah dan nilai kebangsaan, baik karena minimnya minat belajar literasi budaya maupun kurang maksimalnya internalisasi nilai melalui pendidikan formal. Ketika generasi muda tidak memahami sejarah perjuangan bangsa atau makna persatuan, mereka akan lebih mudah mengabaikan pentingnya nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, pengaruh gaya hidup konsumtif dan individualis yang berkembang sebagai dampak globalisasi membuat banyak anak muda lebih fokus pada kebutuhan pribadi daripada kepentingan kolektif. Mereka cenderung mengejar popularitas, kenyamanan, dan hiburan, sehingga nilai-nilai seperti patriotisme, kepedulian terhadap bangsa, dan semangat juang semakin memudar.

Tidak hanya itu, melemahnya keteladanan dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga, tokoh masyarakat, dan bahkan figur publik, turut memengaruhi pembentukan karakter nasionalis pada generasi muda. Ketika generasi muda jarang melihat contoh konkret dari sikap cinta tanah air, kedisiplinan, serta penghargaan terhadap budaya lokal, mereka akan kesulitan menumbuhkan nilai tersebut dalam diri. 

Faktor terakhir adalah tantangan dalam pendidikan karakter, di mana beberapa sekolah belum optimal dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui metode yang kreatif dan relevan dengan kondisi zaman. Jika penyampaian nilai hanya bersifat teoritis dan kurang terhubung dengan kehidupan nyata, maka proses internalisasi nasionalisme akan menjadi kurang efektif.

Usaha Mengatasi Lunturnya Nasionalisme, perlu peran dari berbagai pihak, diantaranya: 

1. Peran Keluarga 

Keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak, karena di dalam keluarga anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya, keluarga juga sangat berperan dalam mengawasi dan juga membentuk watak serta perilaku anak. Peran keluarga dalam membentuk rasa nasionalisme pada anak yaitu dengan memberikan pendidikan sejak dini mengenai sikap nasionalisme dan patriotisme terhadap bangsa Indonesia, membiasakan anak sejak dini untuk menggunakan produk-produk dalam negeri sehingga anak bisa terbiasa menggunakan produk dalam negeri.

2. Peran Pendidikan 

Peran pendidikan yaitu memberikan pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, dan juga memberikan materi mengenai bela negara memberikan arahan dan juga pembekalan materi kepada siswa, dan juga menanamkan sikap cinta tanah air kepada siswa seperti contohnya melakukan kegiatan upacara bendera setiap hari Senin dan setiap hari besar nasional, mengajarkan siswa untuk menghormati jasa pahlawan. Memberikan pendidikan moral, sehingga siswa tidak mudah menyerap hal-hal negatif di luar sana.

3. Peran Pemerintah 

Pihak pemerintah juga sangat ikut berperan dalam menumbuhkan sikap nasionalisme generasi milenial, karena pemerintah merupakan suatu panutan bagi masyarakat yang berada di bawah naungan pemerintah itu sendiri baik dalam hal peraturan maupun kebijakan yang diberikan. Salah satu hal atau kebijakan yang bisa membantu dalam upaya membangkitkan sikap nasionalisme generasi milenial salah satunya yaitu dengan, mengadakan berbagai macam kegiatan yang dapat menegakkan sikap nasionalisme dan patriotisme seperti mengadakan kegiatan seminar dan pameran kebudayaan, mewajibkan pegawai negeri sipil untuk memakai batik setiap satu minggu sekali, karna batik merupakan salah satu karya kebudayaan Indonesia, pemerintah juga harus mendengarkan dan menghargai aspirasi generasi muda untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi.

Secara keseluruhan, nasionalisme generasi milenial menunjukkan gejala pelemahan akibat faktor internal, seperti ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah, serta faktor eksternal berupa derasnya arus globalisasi yang memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. Oleh karena itu, diperlukan peran yang sinergis antara keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan agar identitas dan keutuhan bangsa dapat terus terjaga. (*) 

Komentar0

Type above and press Enter to search.