PADANG PANJANG, baritonagarinews.com - Mimpi anak yatim piatu Muhammad Khadafi, untuk bisa kuliah di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, kini menjadi nyata. Tepat Selasa 27 Oktober 2026, sehari sebelum hari Sumpah Pemuda, dirinya berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang Pariaman, menuju Kairo, Mesir.
Rasa bangga beserta haru tidak bisa disembunyikan oleh neneknya Rajidah (80), yang sudah merawatnya sejak kecil ketika M.Khadafi berusia 7 tahun, saat ayah dan ibunya pergi meninggalkannya beserta Dua orang adiknya, menghadap Alloh, pada tahun 2014 dan 2015 silam.
Sepeninggal ayah dan ibunya M.Khadafi kecil dan Dua adiknya Hidayat dan Fadli Rezki, diasuh oleh nenek dan kakeknya Anwar (Alm). Jauh dari kasih sayang seorang ibu dan ayah, Khadafi tumbuh dan besar bersama nenek dan kakeknya. Kerja keras banting tulang, keladang dan parak (kebun) untuk menghidupi Tiga anak yatim piatu itu, dilakoninya.
Namun, Khadafi tidak sendiri. Banyak orang yang menyayanginya. Keluarga besarnya, masyarakatnya, lingkungan tempat tinggalnya, turut mengiringi perjalanan hidupnya, mewujudkan cita cita sampai berangkat menuju negeri para nabi Kairo, Mesir.
Perjalanan M.Khadafi, baru saja dimulai. Kairo, Mesir, Kota Seribu Menara, memang sudah menjadi mimpinya sejak masih bersekolah di Pondok Pasentren Thawalib, Pandang Panjang. Cita-cita itu, meski awalnya mustahil untuk bisa diwujudkan. Karena, untuk sekolah keluar negeri, kampus internasional, biayanya sangat besar.
Berbekal ketekunan dan kegigihan serta semangat pantang menyerah, ditambah dukungan dan supor yang kuat dari nenek, Etek (saudara perempuan ibunya) dan paman (saudara laki-laki ibunya) mimpi M.Khadafi, di kabulkan Alloh. Peruntungan M.Khadafi, dimulai sejak dirinya tamat dari Thawalib dan ikut tes masuk Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Ketika itu perjuangan berat baru saja usai dijalani untuk bisa ikut tes masuk Universitas Al Azhar Kairo Mesir, menguras otak dan fikiran untuk menjawab soal-soal ujian berbahasa Arab, selama beberapa hari. Harapan hanya satu, bisa lulus dengan nilai terbaik agar bisa masuk universitas tertua di Dunia itu.
Penantian pengumuman hasil ujian itu akhirnya tiba jua, nama Muhammad Khadafi, anak yatim piatu itu, dinyatakan lulus dengan nilai terbaik dan bisa kuliah langsung di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Alangkah riang dan senangnya hati, bisa diterima kuliah di Kairo Mesir, yang dijuluki ibu Dunia (the mother of the world).
Rasa haru dan senang itu bercampur khawatir dan cemas. Karena untuk biaya keberangkatan menuju Kairo Mesir, tidak lah sedikit, untuk bisa berangkat harus mengeluarkan biaya 28,8 juta. Belum lagi biaya selama beberapa tahun di Kairo Mesir. Setidaknya untuk biaya hidup, bisa habis 1,5-3 juta perbulan.
Pikiran M.Khadafi, diselimuti kekhawatiran biaya yang besar, kemana akan dicari oleh nenek, Etek dan pamannya. Belum lagi biaya sekolah untuk Dua adiknya yang juga sedang menimba ilmu di Pondok Pasentren. Namun, kabar M. Khadafi diterima di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, sudah menyebar di Kampung ibunya, Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.
Sejak saat itu, bantuan untuk M.Khadafi mewujudkan mimpinya menimba ilmu di Al Azhar Kairo Mesir, mulai mengalir. Tidak hanya masyarakat yang berada di Kampung, jamaah-jamaah masjid se-nagari Paninjauan, tetapi juga perantau Jorong Tabu Baraie, Nagari Paninjauan yang ada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam, Kalimantan, Riau, ikut membantu.
Tidak sampai disana, bantuan juga mengalir dari keluarga ayahnya di Tambangan, teman-teman ayahnya semasa hidup, bahkan dari murid kakeknya (dari pihak ayah) di Malaysia juga membantu. Entah siapa yang memberi kabar, hingga bantuan dari perantau minang di Jepang, juga mengirim untuk Khadafi.
Pemerintah Kota Padangpanjang melalui Baznas, tidak ketinggalan, begitu juga tokoh-tokoh masyarakat dan hamba-hamba Alloh di Kota Padang Panjang, juga menggalang bantuan untuk pendidikan M.Khadafi. Bantuan dari UZMA Care di Kota Payakumbuh, juga mengalir, serta banyak pihak yang ikut membantu pendidikan untuk anak yatim piatu itu.
Nenek, Etek dan Paman Khadafi, begitu terharu dengan besarnya pertolongan orang-orang baik yang dikirim Alloh untuk anak yatim piatunya sampai hari keberangkatan, baik berupa dukungan secara moril dan materil. "Terimakasih banyak kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Alloh telah mengirimkan hamba-hambanya untuk menolong anak yatim piatu ini. Kami yakin kami tidak sendiri, ada masyarakat, orang orang baik yang tulus datang mengulurkan tangan, sekali lagi terimakasih, semoga Alloh membalas semuanya dengan pahala yang berlipat ganda, aamiin," ucapnya bersyukur disela-sela pelepasan M.Khadafi beserta rombongan Nun Institut, di bandara BIM Padang Pariaman menuju Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Pewarta : Khatik

Komentar0