Irwan Suwandi.Sn,S.Ip, Mm
(Alumni FISIP Universitas Andalas dan Magister Manajemen ITB HAS Bukittinggi. Pemerhati Masalah Sosial)
Kabut Asap Masih Menyelimuti. Pagi Ini, Kabut Asap Terasa Lebih Pekat Di Daerah Luak Limopuluah, Sumatera Barat Dimana Penulis Berdomisili. Pekatnya Kabut Membuat Pikiran Meliburkan Anak Muncul. Anak-Anak Tak Usah Sekolah, Bahaya. Demikian Batin Penulis.
Namun Disisi Lain, Proses Belajar Mengajar Juga Penting. Apalagi Bagi Siswa Tingkat Akhir. Mereka Tengah Berpacu Dengan Waktu, Mempersiapkan Diri Guna Mengikuti Ujian Akhir Yang Tinggal Menghitung Bulan. Perdebatan Mucul. Mana Yang Mau Dipilih, Tetap Ke Sekolah Atau Dirumah Saja?
Jika Ditimbang, Hak Mendapat Pendidikan Sama Mendasarnya Dengan Hak Mendapat Kesehatan.
Hal Itu Termaktub Dalam Konstitusi Kita. Kedudukan Keduanya Sama Dan Setara. Keduanya Bukan Untuk Dipilih, Tetapi Untuk Sama-Sama Dilaksanakan.
Beberapa Jalan Dipilih, Misalnya Mewajibkan Pemakaian Masker Bagi Siswa Saat Di Sekolah. Pilihan Ini Dapat Mengakomidir Kedua Hak Dasar Itu. Namun Konsistensi Siswa Memakai Masker Masih Menjadi Persoalan. Pemakaian Masker Kadang Belum Dipandang Sebagai Instrument Wajib. Jangankan Siswa, Para Guru Juga Sering Inkonsisten Dalam Pemakaian Masker Saat Kabut Asap.
Pilihan Berikutnya Adalah Pembelajaran Jarak Jauh (Pjj) Atau Sering Disebut Sekolah Dalam Jaringan (Daring). Metode Ini Sering Diambil Sebagai Pilihan Temporer Khususnya Saat Terjadi Bencana Atau Ada Kendala Fisik Untuk Bisa Melangsungkan Pembelajaran Secara Tatap Muka, Seperti Kabut Asap Saat Ini.
Di Sejumlah Daerah Yang Terpapar Kabut Asap Di Sumatera Barat, Pelaksanaan Sekolah Daring Sudah Dijalankan. Kota Padang, Kabupaten Dharmasraya, Dan Kota Solok Tercatat Sebagai Tiga Daerah Pertama Yang Memberlakukan. Kota Padang Menerapkan Pjj Bagi Siswa Sd Dan Smp Dan Meliburkan Siswa Paud/Tk Tanggal 9-11 September Lalu.
Pada Saat Yang Hampir Bersamaan, Kabupaten Dharmasraya Dan Kota Solok Juga Menerapkan Sekolah Daring Bagi Siswa Paud Hingga Smp. Sementara Untuk Siswa Sma, Belum Satu Sekolah Dan Daerah Pun Yang Menerapkan Pjj Atau Sekolah Daring. Barangkali Karena Kewenangannya Berada Di Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Pertanyaannya, Sampai Kapan Kita Keukeh Untuk Tetap Memaksakan Pembelajaran Tatap Muka Ditengah Kabut Asap Yang Tak Kunjung Reda? Sampai Kapan Kita Biarkan Anak-Anak Terpapar Kabut Asap Yang Mengancam Kesehatan Mereka?.
Metode Pjj Atau Sekolah Daring Adalah Solusi Mendesak Ditengah Bencana Kabut Asap Saat Ini. Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (Ispu) Di Sumatera Barat, Banyak Daerah Memiliki Kualitas Udaranya Sangat Tidak Sehat. Sebagian Bahkan Berada Di Level Berbahaya. Kondisi Ini Tentu Harus Segera Disikapi.
Sebenarnya, metode PJJ atau Sekolah Daring adalah pilihan metode pembelajaran yang sama dan setara dengan metode pembelajaran tatap muka. Diluar kebencanaan, metode ini bisa saja dipilih, karena keseluruhan komponen dalam proses pembelajarannya pun sebagaian besar sama dengan metode pembelajaran tatap muka.
Dalam PJJ, komponen belajar mengajarnya juga terdiri dari peserta didik, pendidik/guru. Ada tujuan pembelajaran, materi/ bahan ajar, metode/model pembelajaran, media dan sumber belajar, lingkungan belajar dan juga ada evaluasi/asesmen. Satu-satunya beda Sekolah Daring dengan tatap muka adalah lokasi atau tempat pelaksanaannya saja.
Model Sekolah Daring sejatinya juga model pembelajaran masa depan. Hal ini menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedepan, kita mungkin akan dapati ruang dan tempat tak lagi membatasi seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ia bisa mengikuti kelas secara Daring di sekolah atau kampus-kampus bergengsi luar negeri dari rumahnya.
Dalam dunia pendidikan tinggi saat ini, metode PJJ pun sudah sejak lama diterapkan oleh beberapa institusi pendidikan. Universitas Terbuka (UT) contohnya. Mahasiswa UT tidak perlu hadir ke kampus. Mereka cukup hadir didepan komputer atau laptop untuk mengikuti pembelajaran dari dosen-dosen mereka.
Di beberapa program studi strata dua (S2) dan strata tiga (S3), metode PJJ atau Daring pun banyak diterapkan sejumlah kampus baik dalam maupun luar negeri. Kompetensi mahasiswa dibangun melalui sejumlah penugasan dan atau penelitian serta belajar mandiri dibawah bimbingan dosen assesor tanpa harus bertemu langsung secara fisik.
Model Sekolah Daring juga menawarkan keuntungan finansial bagi peserta didik dan juga tenaga pendidik. Melalui Sekolah Daring, mereka turut menyukseskan program hemat energi yang digagas pemerintah sebagai imbas krisis energi global akibat perang di Timur Tengah. Siswa dan guru tak perlu setiap hari berkendara ke sekolah, mereka belajar dan berinteraksi dari rumah masing-masing.
Sekolah Daring juga memungkinkan terjadinya penghematan dalam pengeluaran rumah tangga. Para siswa dapat menghemat uang jajan karena hanya berada di rumah. Sebagian jatah uang jajan bisa ditabung dan atau dikembalikan kepada orang tua, sehingga meringankan beban keuangan keluarga.
Pelaksanaan Sekolah Daring juga dapat meringankan beban fiskal Negara. Pemberlakuan Sekolah Daring otomatis mengurangi frekwensi pembagian makanan bergizi gratis (MBG). Jika dihitung, Negara hemat Rp. 918 milyar/ hari jika MBG di stop. Bayangkan jika dikali seminggu atau sebulan, puluhan trilyun bisa dihemat dan diarahkan untuk keperluan prioritas pembangunan lainnya.
Jika didalami, tentu masih akan ada sejumlah keuntungan yang didapatkan dari perubahan pembelajaran tatap muka ke Sekolah Daring. Namun tentu, dibalik itu ada juga sejumlah tantangan yang harus dijawab agar tujuan pembelajaran dapat tetap dicapai melalui Sekolah Daring.
Pertama, pemerintah harus bisa menjamin proses Sekolah Daring diikuti dengan serius oleh para siswa. Dalam proses Sekolah Daring, pengawasan pembelajaran menjadi titik lemah, karena guru dan siswa tidak berada dalam satu lokasi. Lingkungan siswa belajar Daring tak sepenuhnya teramati guru, sehingga proses transformasi materi ajar bisa saja tidak disimak siswa secara serius.
Untuk mengatasinya, sejumlah regulasi harus dibuat. Salah satunya, kewajiban siswa untuk terus menghidupkan kamera atau On Cam selama Sekolah Daring berlangsung. Posisi kamera harus bisa menangkap keseluruhan badan siswa sehingga aktivitas siswa terpantau dengan baik oleh guru dan juga teman-teman se kelas Daring.
Tantangan kedua adalah ketersediaan sarana prasarana penunjang Sekolah Daring, khususnya dari segi ketersediaan perangkat elektronik dan jaringan atau sinyal provider. Untuk tantangan ini sebetulnya kita sudah terlatih saat pelaksanaan Sekolah Daring waktu bencana covid-19 melanda.
Pengalaman Sekolah Daring waktu itu dapat menjadi dasar penerapan Sekolah Daring saat bencana kabut asap kali ini. Rasanya kita jauh lebih siap mejalankan Sekolah Daring saat ini dibandingkan waktu Covid-19 lalu yang serba pertama.
Diluar itu semua, pada prinsipnya pilihan Sekolah Daring bukan karena dipicu faktor eksternal semata. Menurut hemat penulis, di masa depan, metode pembelajaran Daring adalah sebuah keniscayaan. Ia akan mendominasi. Metode pembelajaran tatap muka akan ditinggalkan. Orang tidak lagi terikat ruang dan waktu untuk menimba ilmu.
Jika hari ini kabut asap memaksa kita menerapkan Sekolah Daring, maka anggaplah itu sebagai pra kondisi sebuah transformasi pembelajaran. Transformasi dari metode pembelajaran konvensional (tatap muka) menjadi metode pembelajaran modern (Daring). Wallahu’alam.
Pewarta : khatik

Komentar0