TSOlTfzlGpdoGUGlTpzlTUOiTd==

Salah Satu Cara Tuk Alihkan Ketergantungan Terhadap Hasil Hutan, Kepala Jorong Buluh Kasok Ajak Warga Kelola Lahan Jadi Kebun Sayur

Simpang Ayia Putiah jorong Buluh Kasok, nagari Sarilamak

LIMAPULUH KOTA, BN-News — "Sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil hutan, kita telah menghimbau kepada warga untuk mengelola lahan menjadi kebun sayur. Kita juga sudah mencontohkan bagaimana cara pengelolaan lahan hutan menjadi kebun sayur". Demikian kata Edison, kepala jorong Buluh Kasok, nagari Sarilamak, kecamatan Harau, kabupaten Limapuluh Kota saat dikunjungi awak media di kediamannya di Taeh, Buluh Kasok pada Selasa (8/9/2026).

Edison menerangkan "Lebih dari 98 persen warga Jorong Buluh Kasok, disebut masih terdata sebagai masyarakat miskin. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu tantangan dalam upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat." katanya 


Edison memaparkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayahnya telah menerima berbagai program bantuan sosial sejak sekitar 2013, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, menurutnya, bantuan sosial tersebut belum secara signifikan mendorong perubahan kondisi ekonomi masyarakat.

“Lebih dari 98 persen warga Jorong Buluh Kasok terdata sebagai masyarakat miskin. Sejak tahun 2013 mendapat bantuan sosial seperti PKH dan lain-lain. Namun sampai sekarang tidak ada perkembangannya, hidup mereka seperti itu saja, ekonomi mereka tidak bertambah juga,” ujarnya.

Edison, kepala jorong Buluh Kasok

Menurut Edison, persoalan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kemiskinan tidak cukup hanya melalui bantuan sosial. Masyarakat perlu didorong memiliki sumber penghasilan produktif yang sesuai dengan potensi wilayah dan kemampuan mereka.

Ia menilai perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan saat ini dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Sekarang perhatian pemerintah pusat sangat besar terhadap usaha peningkatan taraf kehidupan ekonomi ini melalui bidang pertanian, perkebunan, kehutanan dan lain-lain. Itu juga bisa jadi jalan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat,” katanya.

Edison mencontohkan sejumlah bantuan yang dapat diarahkan pada kegiatan produktif, seperti bantuan permodalan untuk UMKM serta bantuan bibit kakao dan kopi. Menurutnya, pengembangan tanaman produktif di kawasan yang sesuai juga dapat memberikan sumber pendapatan sekaligus membantu mengurangi tekanan terhadap hutan.

Di sisi lain, ia menyebut telah muncul bentuk usaha lain dari masyarakat yang memanfaatkan potensi lingkungan tanpa harus melakukan penebangan, salah satunya seperti apa yang dilakukan oleh kelompok peternak madu trigona atau madu galo-galo KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) Madu Sohih.

“Dengan adanya kelompok peternak madu trigona ini, sehingga ada bentuk alternatif lainnya dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih adanya sejumlah warga yang menjalankan aktivitas yang disebutnya sebagai masak rongkah, yakni oknum warga yang mencari dan menjual kayu api. Menurut Edison, beberapa orang yang melakukan aktivitas tersebut dapat memperoleh penghasilan hingga sekitar ratusan ribu per hari.

Kondisi itu, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri ketika masyarakat diminta beralih ke usaha produktif seperti berkebun, karena usaha tersebut membutuhkan keterampilan, modal dan waktu sebelum menghasilkan pendapatan.

Namun, persoalan ekonomi masyarakat tidak semudah menyelenggarakan penyuluhan atau pelatihan saja. Edison menilai program pemberdayaan harus benar-benar memahami kondisi kehidupan warga.

Menurutnya, jika diadakan pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dengan penyuluhan misalnya. Masyarakat dikumpulkan untuk mengikuti penerangan dalam waktu sehari penuh misalnya, sebagian warga justru harus meninggalkan ladang, ternak atau pekerjaan lainnya. Kondisi itu berarti mereka kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan pada hari tersebut.

“Kalau masyarakat dikumpulkan, maka berhentilah pekerjaan mereka. Banyak kerugian ekonomi yang mereka derita, ladang tinggal, ternak tinggal, sehingga sehari itu mereka tidak menghasilkan pendapatan ekonomi,” katanya.

“Mungkin juga para pekerja masak rongkah itu akan mau beralih berusaha mencari penghidupan di bidang lain, namun mereka tidak punya modal usaha,” ujarnya.

Karena itu, Edison berpendapat pemberian modal harus dilakukan secara lebih luas dan tidak hanya menyasar warga yang selama ini melakukan aktivitas penebangan kayu. Warga yang telah menjalankan kegiatan produktif juga perlu mendapatkan dukungan agar usahanya berkembang.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat juga tidak cukup hanya dengan memberikan modal. Keterampilan, pendampingan dan kemampuan mengelola usaha menjadi bagian penting agar bantuan benar-benar menghasilkan perubahan.

Ia menilai masyarakat perlu dibuka wawasannya untuk mengembangkan berbagai usaha sesuai potensi yang tersedia, mulai dari berkebun, beternak hingga berdagang. Dengan demikian, masyarakat memiliki pilihan sumber pendapatan selain mengambil hasil hutan.

“Tidak bisa dipilih-pilih saja hanya orang yang masak rongkah ini. Warga yang patuh-patuh, yang baik-baik lebih penting juga untuk mendapatkan modal usaha untuk berkebun, berternak dan berjualan,” katanya.

Bagi Edison, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga hutan tidak dapat dipisahkan. Masyarakat membutuhkan sumber penghasilan yang nyata agar tidak terus bergantung pada hasil hutan, sementara hutan membutuhkan masyarakat yang memiliki alasan ekonomi untuk menjaganya.

Karena itu, pengembangan ekonomi berbasis lahan, pertanian, perkebunan, peternakan dan usaha hasil hutan bukan kayu dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan dua kebutuhan tersebut: meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pewarta: F. Malin Parmato

Komentar0

Type above and press Enter to search.