Solok-BN-News-Paska Pilkada Kab. Solok banyak orang meramal karir Medison akan padam. Mengingat ia dilantik menjadi Sekda oleh Bupati Epyardi Asda yang sempat tak seirama dengan Wakilnya JFP alias Jon Pandu.
Karena itulah kemudian JFP menjadi 'kekasih' publik di Kab Solok dan ketika maju menantang Istri Epyardi, Jon Pandu menang mudah.
Dibalik itu sosok Sekda Medison menjadi penengah bagi hubungan Bupati dengan Wakil Bupati agar tidak memburuk.
Tentu butuh kepiawaian untuk menjadi jembatan bagi dua kubu yang berseberangan, dua pribadi yang bersiteru dihadapan publik. Kesan itu begitu jelas, seolah Jon Pandu tak dapat tempat berarti.
Pada sebuah Kamis pagi, 7 Mei 2026, satu babak baru dimulai di Kabupaten Dharmasraya. Di hadapan jajaran pemerintahan dan undangan yang hadir, Medison resmi dilantik sebagai Sekretaris Daerah definitif oleh Bupati Annisa Suci Ramadhani.
Pelantikan itu bukan sekadar pergantian jabatan. Ia menjadi penanda perjalanan panjang seorang aparatur sipil negara yang meniti karier dari ruang-ruang kerja paling dekat dengan masyarakat hingga mencapai salah satu posisi tertinggi dalam birokrasi daerah.
Medison lahir pada 9 April 1971. Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai birokrat yang tumbuh dari pengalaman lapangan, dari tugas-tugas yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan kemampuan membaca denyut kebutuhan masyarakat.
Jejak pengabdiannya bermula pada 1994, ketika ia dipercaya sebagai Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kecamatan Pulau Punjung. Saat itu, Dharmasraya belum berdiri sebagai kabupaten sendiri dan masih menjadi bagian dari Sawahlunto/Sijunjung.
Di kantor kecamatan itulah, Medison ditempa. Ia belajar bahwa pembangunan daerah bukan semata soal angka-angka di atas kertas, melainkan tentang memahami kehidupan warga, mengenali persoalan desa, dan mencari jalan keluar bersama.
Selepas dari Pulau Punjung, tanggung jawabnya terus bertambah. Ia memasuki bidang administrasi pemerintahan dan kependudukan di Kabupaten Sijunjung, menangani urusan yang menjadi fondasi tertibnya tata kelola pemerintahan.
Karier birokrasi yang ia jalani tidak melompat-lompat. Ia menempuhnya setapak demi setapak, mulai dari Kasubag Capil, kemudian Kasubag Tata Pemerintahan Nagari, dua posisi yang memperkaya pemahamannya tentang struktur pemerintahan dari tingkat paling dasar.
Kepercayaan yang terus tumbuh kemudian membawanya menjadi Camat Lubuk Tarok. Di sana, ia tidak hanya menjadi administrator, tetapi juga pemimpin wilayah yang harus hadir di tengah masyarakat dengan segala dinamika sosialnya.
Sesudah itu, Medison dipercaya pula memimpin Kecamatan Kamang Baru. Dalam jabatan itu, ia makin akrab dengan kenyataan bahwa kemajuan daerah amat bergantung pada kemampuan menyatukan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah.
Pengalaman memimpin wilayah menjadi bekal penting ketika ia diamanahi sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Nagari Kabupaten Sijunjung. Pada fase ini, cakupan kerjanya meluas, dari mengurus kecamatan menjadi merancang arah pemberdayaan masyarakat secara lebih sistematis.
Langkah pengabdiannya kemudian berlanjut ke Kabupaten Solok. Di daerah itu, ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari, jabatan yang menuntut kecermatan dalam merawat hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintahan nagari.
Sesudahnya, Medison menempati posisi Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Solok. Ia lalu dipercaya menjadi Penjabat Sekretaris Daerah, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Daerah definitif Kabupaten Solok pada 2022.
Di balik perjalanan karier itu, pendidikan menjadi salah satu penopangnya. Ia menempuh pendidikan di STIA LAN RI Jakarta, lalu melanjutkan ke Pascasarjana Universitas Andalas, mempertemukan pengalaman lapangan dengan penguatan perspektif akademik.
Kini, ketika ia kembali ke Dharmasraya, ada makna yang lebih dalam dari sekadar mutasi jabatan. Ia kembali ke daerah yang pernah menjadi salah satu titik awal pengabdiannya, seolah menegaskan bahwa perjalanan panjang sering kali membawa seseorang pulang ke tempat mula-mula ia belajar.
Di pundaknya kini bertumpu harapan besar. Di tengah tuntutan efisiensi anggaran, reformasi birokrasi, dan kebutuhan pelayanan publik yang semakin cepat, kehadiran seorang birokrat berpengalaman menjadi modal penting bagi pemerintahan daerah.
Kisah Medison mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari langkah besar yang gemerlap. Kadang, ia tumbuh dari kesetiaan pada tugas-tugas kecil, dari kantor kecamatan yang sederhana, hingga akhirnya bermuara pada amanah besar untuk memimpin birokrasi sebuah kabupaten.
Bjoo7


Komentar0